23 Mei 2024

Apakah Salah Kebebasan Berekspresi dalam Film Guru Tugas?

2 min read

Nules.co – Dalam negara demokrasi ini, film termasuk representasi dari “kebebasan berekspresi” dan pada era digital ini, film semakin mudah diproduksi, misalnya melalui kreatifitas kelompok tertentu (ada yang menjadi sutradara, produser, kameramen, editor, dan pemeran, meski mereka tidak pernah mengecap pendidikan jurusan film) menciptakan karya film pendek. Namun kebebasan berekspresi tentu ada batasnya seperti tidak menyinggung sara, ras, suku, dan agama.

Kebebasan berekspresi yang dituangkan dalam film terkadang muncul dari kejadian nyata yang nyeleneh. Realita jungkir balik yang di luar prasangka. Contohnya pemuka agama yang mengajarkan menjauhi kemaksiatan justru malah terperosok dalam kemaksiatan itu sendiri. Kejadian ganjil seperti ini yang menarik difilmkan.

Demikian, saya pikir, yang ingin ditampilkan oleh Akeloy Production menayangkan dalam kanal Youtube-nya film berjudul “Guru Tugas” yang bercerita tentang guru tugas (ustad yang ditugaskan pondok pesantren tertentu supaya berdakwah di tempat lain) namun terjatuh dalam lembah kemaksiatan.

Kisah-kisah guru tugas yang kontribusinya berpengaruh dan perjuangannya mampu melewati beragam fitnah, adalah kisah yang biasa didapatkan dari guru tugas mana pun. Namun, kisah guru tugas yang memerkosa muridnya, adalah cerita yang tidak biasa dan tentu menarik perhatian. Sehingga memproduksi kisah nyeleneh itu dalam film pasti membuat banyak pasang mata menyaksikan.

Apakah salah memproduksi cerita jungkir balik yang nyeleneh dalam sebuah karya? Tentu tidak, sebab termasuk proses kreatif yang menciptakan pembaharuan. Namun, apakah dalam menciptakan karya tidak ada batas-batasnya? Apakah layak suatu karya yang menyinggung sara, ras, suku, dan agama tertentu?

Dalam film “Guru Tugas” dimulai dari pengambilan judul “Guru Tugas” saja sudah menuai kontroversi sebab isi cerita dalam film itu ke ranah negatif. Sehingga seakan-akan semua guru tugas mendapat dampak pandangan yang negatif. Karena guru tugas diutus dari pesantren, otomatis pesantren ikut menerima dampak pandangan negatif.

Baca juga  Doa Agar Dunia Mengejarmu Tanpa Kau Mengejarnya

Mungkin saja kalau Akeloy Production menulis judul lain, namun dalam kisahnya ada sepenggal kejadian pencabulan dari guru tugas, mungkin saja tidak sebesar ini dampaknya. Mungkin saja.

Pencorengan yang terang-terangan ini yang bikin saya geram dari film “Guru Tugas”. Orang-orang yang tidak pernah mengecap pendidikan pesantren akan dihinggapi pikiran buruk soal pesantren dan guru tugas yang diutus dari pesantren. Dampak jangka panjangnya di antaranya, mereka enggan memasukkan anak-cucunya ke pesantren, sebab pesantren dicap sebagai tempat yang tidak aman dan tidak memproduksi pengajar/alumni yang bermoral.

Sudah cukup pesantren tercoreng dengan berita yang heboh di jagat media, soal praktik pencabulan guru kepada santri, soal kekerasan pengurus kepada santri, soal pembunuhan, soal pembulian, dan semacamnya. Sudah cukup. Tidak perlu Akeloy Production yang berasal dari Madura (daerah yang berdiri banyak pesantren baik di kota atau desa) ikut-ikutan memperkeruh citra pesantren.

Tidak ada yang salah dari “kebebasan berekspresi” dalam sebuah karya, namun juga harus menjaga batas-batasan tertentu yang berdampak jangka panjang yang buruk.

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.