11 April 2024

Bolehkah Menyebarkan Hadist Palsu dengan Dalih Untuk Memotivasi dalam Beribadah?

2 min read

Dikutip dari postingan Lora Ismail Al-Kholilie (@ismaelalkholilie) ketika membahas banyak berseliweran di story WhatsApp terkait fadhilah tarawih malam pertama, ke-dua dan seterusnya yang mana hadist tersebut diambil dari kitab Dzurrotun Nasihin, sedangkan status hadist tersebut masuk kategori hadist palsu.

Menanggapi kondisi masyarakat yang entah itu latah dalam bermedia atau dalam beragama atau cuma ikut-ikutan saja, saya ga tahu. Lora Ismail menulis berikut di postingan di akun Instagramnya:

Oleh karena itu hukum menyebarkan hadits ini adalah tidak boleh kecuali jika disertai keterangan bahwa hadits ini adalah hadits palsu.

Lalu bagaimana jika seseorang menyebarkannya dan menjadikannya sebagai status WA dengan tujuan baik seperti untuk memotivasi?Jawabannya adalah : semakin tidak boleh. Berikut komentar para ulama terkait menyebarkan hadits palsu dengan “dalih” untuk memotivasi dan menginspirasi.

لا فرق في تحريم الكذب عليه صلى الله عليه وسلم بين ما كان في الأحكام وما لاحكم فيه كالترغيب والترهيب والمواعظ وغير ذلك، فكله حرام من أكبر الكبائر وأقبح القبائح بإجماع المسلمين الذين يعتد بهم في الإجماع، ويحرم رواية الحديث الموضوع على من عرف كونه موضوعا أو غلب على ظنه وضعه، فمن روى حديثا علم أو ظن وضعه ولم يبين حال روايته وضعه فهو داخل في هذا الوعيد مندرج في جملة الكاذبين على رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويدل عليه – أيضا – الحديث السابق من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين.

“Tidak ada bedanya di dalam berdusta atas nama Rasulullah baik dalam menjelaskan hukum, atau dalam memotivasi kebaikan dan mengultimatum dari keburukan, atau dalam nasehat dll. dan haram menyebarkan hadits palsu bagi orang yang tau atau kuat dalam perasangkanya bahwa itu adalah hadits palsu” (Imam Nawawi, Syarah Muslim)

Baca juga  Kebebasan atau kebablasan?

وقد ظنَّ ظانون: أنه يجوز وضع الأحاديث في فضائل الأعمال، وفي التشديد في المعاصي، وزعموا أنَّ القصد منه صحيح وهو خطأً مَحْضَ؛ إِذْ قال صلى الله عليه وسلم: مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Ada sebagian yang berasumsi bahwa boleh mengarang hadits untuk memotivasi amal baik dan mewanti-wanti dari kemaksiatan dan mereka menyangka bahwa tujuan mereka benar! dan itu jelas murni sebuah kesalahan”(Imam Ghozali, Ihya’ Ulumuddin).

Apakah tidak cukup berhusnudzon dan berbaik sangka karena hadits ini dinukil dari kitab yang cukup populer di sebagian pesantren ?

Dalam menukil hadits kita tidak cukup mengandalkan husnudzon, bahkan dalam ilmu hadits kita harus bersikap kritis agar berhati-hati dalam menstatuskan sebuah ucapan sebagai bagian dari Sabda suci Baginda Nabi Saw, oleh karena itu dalam ilmu hadits kita mengetahui sebuah ilmu “kritis” yang dinamakan sebagai ilmu “Al-Jarh wa Ta’diil”.

Terkait kehati-hatian dalam menukil sebuah hadits yang belum jelas statusnya, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkomentar :

اما الاعتماد في رواية الأحاديث على مجرد رؤيتها في كتاب ليس مؤلفه من اهل الحديث أو في خطب ليس مؤلفها كذلك فلا يحل ذلك

“Adapun berpegangan dalam menukil sebuah hadits hanya karena hadits itu ada dalam satu kitab yang penulisnya bukan merupakan ahli hadits, atau dalam ceramah- ceramah yang penulis naskahnya juga bukan ahli hadits, maka itu hukumnya tidak boleh” (Fatawa Haditsiah)

Sumber : Lora Ismail Al-Kholilie

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.