11 Juni 2024

Cinta Tak Selamanya Indah, Dik..! (Part 2)

13 min read

Nules.co – Singkat cerita, hubungan Ahkam dan Ilmi semakin dekat. Mereka pun tak mampu membendung perasaan bahwa keduanya saling jatuh cinta. Waktu itu mereka sering jalan berdua, menghabiskan waktu bersama.

Seiring hubungan mereka terus berjalan, namun antara satu dengan yang lain belum menyatakan cintanya, tampak dengan malu-malu dan sekiranya keduanya selalu gemetaran saat berjumpa, sama-sama takut ketolak ketika ingin menyatakan perasaannya masing-masing.

“Kampus libur 2 bulan” ucap Robert, teman Ahkam, saat mereka ada di kost-an Ahkam.

“Ah, masak? Lama bener” tanya Ahkam

“Iyaa, benar 2 bulan liburnya kam” lanjutnya

Selama libur, baik Ahkam dan Ilmi tidak banyak bersua. Keduanya hampir tidak pernah bertemu sama sekali. Selain karena sibuk dengan urusannya masing-masing, Ahkam yang selama ini tinggal di kost, pulang ke rumahnya selama liburan. Sedangkan Ilmi sepertinya ada masalah intern yang terjadi di keluarganya.


Dua bulan berlalu, kampus kembali masuk. Mahasiswa disibukkan kembali dengan kegiatan dan tugas-tugasnya masing-masing.

“Minggu depan kita presentasi, bro!!” ucap Robert pada Ahkam yang lagi sibuk menggarap isi Mading yang harus diterbitkan minggu depan.

“Oh yaa.. Presentasi apa?” tanya Ahkam sambil mengedit tulisan Mading di laptopnya

“Psikologi pendidikan” jawab Robert santai

Ahfas melanjutkan “Jangan khawatir, nanti aku yang buat makalahnya. Dan kamu yang nanti bertindak sebagai presentatornya. Gimana?”

“Baik, kalau begitu. Nanti jika sudah selesai, kirim yaa makalahnya dalam bentuk PDF, biar kupelajari dahulu sebelum presentasi” jawab Ahkam

“Okee” ujar Robert

Ahkam melanjutkan kembali mengedit tulisan yang akan ia terbitkan di Mading, setelah tadi sempat terpecah konsentrasinya karena ada Robert. Tujuh tulisan di Mading sudah ia selesai edit. Lalu ia melihat ponselnya, mencari kontak Anas, dan meneleponnya.

“Nas, ada dimana?”

“Masih di kantin. Habis ini otw kesitu kam”

“Okee. Ditunggu”

Satu batang rokok sampoerna mild Ahkam keluarkan dari bungkusnya dan ia taruh di mulutnya. Tangan satunya mengambil korek api. Ia nyalakan rokok itu dan keluar asapnya. Terasa begitu nikmat ketika ia menyedot rokok itu, apalagi setelah mengedit 7 tulisan yang membuat kepalanya pening.

Terus ia hisap rokok itu sembari ia seruput kopi hitam di dekatnya.

“Ada apa kam?” tanya Anas dari balik pintu kantor LPM

“Ini, sudah selesai aku edit dan lay-out tulisan madingnya. Jadi sekarang tugasmu untuk design. Besok mo kita terbitkan mading ini” jawab Ahkam

Tanpa basa-basi, Anas langsung mengambil alih laptop mendesignnya. Sambil menunggu Anas, Ahkam menghubungi Ilmi via WhatsApp untuk bisa mencetak mading.

“Halo.. Sore ini sibuk?”

“Iyaa. Ada apa mas?”

“Rencananya mau cetak mading, ini sekarang Anas sedang design madingnya. Mungkin satu jam lagi selesai. Jika tak sibuk, ayo cetak mading!”

“Oo iyaa mas.. insyaallah.. Tapi nanti, kan? Aku sekarang sek ada kuliah”

“Iyaa, nanti”

“Okee”


Di antara langit biru nan tak terbatas, mereka bertemu untuk pertama kalinya, setelah libur panjang. Pada senja yang mencerahkan, ketika kicauan burung menggema menembus hening yang ada, Ilmi memacu motornya menuju percetakan Superstar. Ilmi sudah biasa mencetak mading di percetakan itu.

Sembari menunggu mading dicetak, Ilmi menghubungi Ahkam. “Nanti ambil di Taman Kota, yaa? Aku males yang mo nganter dan balik lagi ke kampus”

“Ooo iyaa.. Jika sudah selesai, kabari. Aku sambil lalu otw kesana”

Percikan air di kolam Taman Kota menggoyang jiwa mereka, menciptakan irama riak-riak air yang puitis. Dalam tatapan mata mereka yang bertautan, tersemat keping-keping kehidupan yang tak banyak orang bisa memahami.

“Ini. Sudah selesai” ucap Ilmi pada Ahkam yang sudah menunggunya di Taman Kota. Nampaknya mereka masih canggung karena lama tak bersua.

“Berapa?” tanya Ahkam pada Ilmi

“Rp-20.000”

“Oh.. Ini”

Ahkam menyodorkan uang dari sakunya dan diberikan pada Ilmi.

“Kamu keburu nggak? Kalo nggak, ada yang mau aku bicarakan” ucap Ilmi

“Eh, nggak. Ada apa?” tanya Ahkam

“Yaudah.. Ayo kesana, naik bianglala. Aku mo bicara. Aku mo cerita” ajak Ilmi.

Seperti tarian putih salju di bawah cahaya bulan, masa remaja mereka ingin mencapai puncak. Kebun bunga yang tak ternilai harganya, Ilmi dan Ahkam merasakan kelembutan dalam setiap langkah yang mereka ambil bersama.

Setelah memesan es. Keduanya bayar karcis untuk naik bianglala. Ketika bianglala mulai menyala, keduanya naik. Mereka duduk berhadapan. Saat bianglala naik satu putaran, Ilmi memulai pembicaraan

“Mas.. Maaf yaa.. Untuk kedepannya, aku gak bisa aktif lagi di LPM. Aku tak bisa lagi aktif untuk mencetak Mading seperti ini. Aku tak bisa lagi aktif menulis. Dan aku juga tak bisa aktif ikut kajian”

Mendengar cerita Ilmi, Ahkam kaget dan bertanya “Loh, kenapa bisa begitu?”

“Aku satu minggu lagi mau nikah, mas.”

“Haaaah” Ahkam sangat lebih kaget mendengar lanjutan cerita Ilmi. Ia langsung lemas, dan berkata “Kok mendadak begitu?”

“Iyaa mas. Ini mau papa dan mama aku. Mereka menjodohkanku. Dan aku harus mau.” jawab Ilmi seraya meneteskan airmata. Bibirnya terasa sangat berat. Ilmi nampak sangat menahan beban. Tangannya tergenggam erat pada tangan Ahkam, keduanya lalu diam. Membisu.

Hening dan sunyi saat itu. Terdengar hanya suara mesin bianglala dalam keheningan mereka.

Ahkam yang hanya diam, memandangi senja dari atas bianglala yang sebentar lagi akan hilang ditempa malam. Sedikit demi sedikit, warna jingga berubah menjadi warna hitam. Gelap dan pekat.

Takdir memiliki rencana yang tak terduga. Perjalanan mereka dipertemukan dengan badai penuh tawa dan tangis, menggoyang kekokohan hati mereka. Percakapan yang sunyi, berubah menjadi kenangan yang mencerminkan kebingungan dan keraguan. Kepercayaan yang mereka tumbuhkan dengan penuh semangat, berkembang menjadi puing-puing yang tak berarti.

Baca juga  Ruang Bawah Tanah

Setelah bianglala berhenti, keduanya turun. Ilmi pamit pulang kerumahnya. Dan Ahkam kembali ke kost-annya. Keduanya kembali dalam keadaan ambyar. Keduanya hidup dalam dunia yang diwarnai oleh rasa kehilangan dan harapan.


Satu minggu kemudian. Ilmi baru saja melangsungkan pernikahan dengan suaminya. Meski berat, Ahkam tetap datang dalam resepsi pernikahan Ilmi. Ia datang dengan teman-temannya.

Pernikahan itu berlangsung pada saat gerimis gagal menjelma hujan. Titik-titik air yang tadi meluncur dari langit sempat membuat keluarga Ilmi waspada. Mereka tidak ingin hujan mengacaukan segalanya dan menggagalkan pernikahan Ilmi. Namun, beruntunglah, sebab nasib baik masih berpihak kepada keluarganya. Hujan memutuskan untuk tidak jadi turun, gerimis pun perlahan-lahan reda dan berhenti, hingga pernikahannya pun berjalan sebagaimana mestinya.

Pasca pernikahan itu, Ahkam tak pernah lagi menghubungi Ilmi. Ia menjalani kehidupan sehari-harinya dengan biasa aja. Meski rasa kecewa sedikit menerpa, ia tidak terlalu berlarut-larut dalam hal itu. Karena menurut Ahkam, ia dan Ilmi sebelumnya hanya dekat. Tidak ada hubungan spesial antar keduanya. Hanya sebatas hubungan dekat saja, tanpa ikatan. Karena sebelumnya, Ahkam belum pernah menyatakan perasaannya pada Ilmi, begitu pula sebaliknya.

Setelah Ilmi menikah, Ahkam dengan semangatnya yang selalu menggebu untuk belajar di kampus dan organisasi, semakin aktif untuk mengikuti seabrek kegiatan kampus. Ia tak mau berlarut-larut. Ia selalu mengerjakan makalah dan presentasi di kelas.

Selain itu, di organisasi yang ia geluti, LPM, ia selalu membuat kajian, menulis artikel, dan menerbitkan mading setiap bulan. Menurutnya, itu adalah amanah dan tanggungjawab yang ia harus lakukan meski dengan dan tanpa Ilmi. Semua itu ia lakukan dengan penuh semangat.


Tiga bulan berlalu..
Kampus memasuki tahun ajaran baru. Seperti di kampus-kampus pada umumnya, setiap kampus selalu melakukan ospek yang digelar di awal tahun ajaran baru. Entah bagaimana, tanpa kesengajaan, Ahkam dan Ilmi berada dalam kepanitiaan ospek kampus.

Dari situ, Ahkam dan Ilmi kembali berjumpa, berkomunikasi dan bekerjasama, setelah tiga bulan tidak ada kabar antar keduanya. Dalam setiap tatapan, mengingatkan bahwa ada jiwa lain di luar sana yang memerlukan mereka. Mereka sama-sama melambai, melalui angin yang membawa cerita-cerita masa lalu.

“Mas.. Kok gak pernah ngabari aku?” tanya Ilmi

“Lagi sibuk” jawab Ahkam sekenanya

“Ih.. Somboooong” tukas Ilmi

“Loh, pulangnya kok sendiri, kamu mi?” tanya Ahkam pada Ilmi selepas ospek hari pertama, saat di parkiran.

“Gpp, kok. Eh, mas kok jahat yaa..” ucap Ilmi

“Jahat kenapa? “ujar Ahkam

“Jahat banget. Aku gak pernah dihubungi lagi kalo mau mencetak mading.” ungkap Ilmi

“Yaa gimana.. Khawatir kamu sibuk gitu..” jawab Ahkam seadanya

“Nggak kok. Aku gak sibuk. Kamu aja mas, yang jahat. Mungkin udah ada cewek lain yaa, yang lebih cantik dari aku, yang aktif di situ (organisasi)” cerocos Ilmi.

“Eh, nggak” jawab Ahkam.

Tanpa mendengar lanjutan jawaban Ahkam, Ilmi langsung memacu motor, pulang kerumahnya. Dari kejauhan, Ahkam memperhatikan Ilmi hingga ia jauh tak terlihat lagi.


Langit sudah gelap dan udara mulai dingin. Tak ada sebutir pun bintang di langit, seolah-olah malam sedang menyembunyikan mereka. Benda-benda bercahaya yang berjarak jutaan tahun cahaya itu kini telah kalah oleh gemerlap cahaya yang lebih dekat dan lebih terang.

“Assalamualaikum mas” tulis Ilmi via WhatsApp

“Waalaikumsalam, iyaa ada apa?” jawab Ahkam

“Aku ingin aktif lagi di organisasi mas. Plis ajak aku yaa kalo ada kajian dan penerbitan mading”

“Oh iyaa.. Baik.”

“Terima kasih mas”

“Aku mau tanya, kamu kan dulu pernah izin, untuk tidak aktif lagi di organisasi. Loh, kenapa sekarang mo aktif kembali?” tanya Ahkam

“Gini, mas. Dulu itu, aku izin kan karena aku mo ada pernikahan, sekarang kan itu udah selesai” jawab Ilmi

“Oh begitu.. Terus apa hal itu nanti tidak mengganggu terhadap urusan rumah tanggamu?” tanya Ahkam lagi

“Nggak, kok. Aku gak bareng ma suami mas. Setelah menikah, kita hidup masing-masing. Gak bareng. Aku di rumah, dia (suami) pulang ke rumahnya. Gak pernah bersama.” jawab Ilmi

“Lah, kok bisa gitu?” cecar Ahkam

“Iyaa,, namanya juga kan perjodohan. Jadi kan dari awal memang aku gak mau. Dan dipaksa. Jadi, yaa itu konsekuensinya sekarang.” jawab Ilmi,

“Terus?” timpal Ahkam

Ilmi kemudian melanjutkan “Keputusan untuk menikah adalah hal yang serius. Kita tak bisa begitu saja main-main dengan keputusan menikah tersebut, mas. Hanya saja terkadang kita harus rela mengorbankan perasaan kita sendiri untuk mendapatkan semua yang terbaik. Dan ternyata, ini bukan yang terbaik” ucapnya.

Ahkam tidak bisa berkata-kata lagi, ia tidak menjawab chat Ilmi. Matanya menatap ke atas. Pandangannya kosong. Jauh disana, Ilmi menyangka Ahkam telah tertidur karena tak membalas chatnya.

Langit sudah sangat gelap. Sedang udara sudah terasa sangat dingin. Tidak ada bintang di langit malam itu. Namun, kota itu begitu gemerlap oleh berbagai jenis lampu, namun lampu-lampu itu masih tak mampu menerangi hati-hati warganya yang gelap.

Pada malam itu, Ilmi sedang berharap lampu di seluruh kota mati saja, dan biarkan benda-benda langit jauh di atas sana, kembali bercahaya. Ia berharap cahaya bisa sampai di hati-hati mereka yang gelap. Mungkin dengan itu warga kota bisa sedikit berbahagia, termasuk Ahkam.

Baca juga  Cinta Tak Selamanya Indah, Dik..! (Part 1)

Hujan membasahi bumi sejak pagi tadi. Nyaris setengah hari Ilmi berdiam diri, malas-malasan di kamarnya. Sedari tadi ia hanya menatap dunia luar lewat jendela kecil di kamarnya yang mengabur oleh rintik-rintik air hujan. Ilmi selalu menyukai hujan. Ia menyukai bau tanah yang menyeruak begitu hujan turun. Ia juga menyukai bau udara yang terasa melegakan setelah hujan menyapu bumi.

Selain itu, Ilmi juga menyukai pemandangan yang ia saksikan di luar jendela kamarnya ketika hujan masih berupa rintik pelan, hingga perlahan berubah menjadi guyuran yang lebat.

“Jika begitu, semoga ada jalan yang terbaik bagimu nanti” tulis Ahkam pagi itu, dalam pesan yang baru ia balas semalam.

“Aamiiin” balas Ilmi langsung, setelah hp-nya bergetar dan ada bunyi notifikasi. Ia lalu menulis pesan lanjutan pada Ahkam “Kamu baru bangun, yaa?”

“Iyaa” jawab Ahkam

“Sana mandi mas” tukas Ilmi

“Nggak ah.. Males, dingin!! Hihi..” ucap Ahkam yang masih malas-malasan rebahan di kamar kost-nya.

Ilmi hanya membalas pesan Ahkam dengan emoticon.

Ahkam lalu menulis dalam pesan WhatsAppnya. “Eh, kamu kok chat aku terus? Apa nanti suamimu gak cemburu?” tulis Ahkam.

“Yaa ngapain cemburu. Aku kan gak tinggal sama dia. Lagian, aku gak cinta sama dia. Udah ah, jangan bahas itu, nanti aku jadi badmood” balas Ilmi.

Ahkam lalu membalas “Bukan gitu maksudku, aku hanya menjaga perasaan satu sama lain. Bukankah begitu?”

“Aku dah gak pernah kepikiran dia mas. Kamu jangan bahas dia, lah. Aku males. Sudah hampir 4 bulan aku begini. Sejak setelah pernikahan itu, aku gak mau lagi ketemu dia.” balas Ilmi

“Lalu?” balas Ahkam

“Apanya? Aku kan dari awal udah gak mau sama dia. Jadi hingga sekarang, aku gak bersama dia. Setelah menikah, aku gak mau tinggal bareng dia.” lanjut Ilmi

Ahkam yang mendengar banyak cerita Ilmi, ia langsung bertanya kembali. “Dalam keadaan sekarang, bagaimana kamu dan keluarga disana?”

“Mama tau dengan keadaan ini mas. Entah kayaknya habis ini aku mau semua ini diakhiri. Aku gak bisa ada pada keadaan ini, mas. Aku masih muda. Aku masih mau kuliah dan belajar” tulis Ilmi

Setelah membaca balasan Ilmi, Ahkam jadi iba pada Ilmi. Ahkam merasa, dunia seperti tak adil, tak berpihak pada Ilmi. Hingga pada saat itu, ia mencoba terus mendengar curhatan Ilmi, dan selalu mendengar keluh-kesahnya. Komunikasi antara Ahkam dan Ilmi tambah intens, bahkan Ilmi hampir bercerita tentang semua kehidupannya pada Ahkam.

“Kesendirian” begitu Ilmi pernah berkata, “sepertinya lebih menyenangkan ketimbang kebersamaan yang selalu mendatangkan kekecewaan.”

Ilmi memang kerap kecewa terhadap hampir segala hal: hidup, manusia, dan yang paling utama adalah keluarga. Hidup telah mengenalkan dirinya tentang luka, manusia telah menyadarkan dirinya tentang ketidakpedulian, dan keluarga —yang ia anggap sebagai miniatur neraka waktu itu— telah mengajarkan dirinya untuk terus-menerus berpikir tentang bunuh diri yang akan menerbangkan arwahnya ke tempat yang entah berada dimana.

Perjodohan dan pernikahan telah membuatnya down. Bahkan saat ia sedang semangat-semangatnya kuliah dan belajar. Ia kemudian sadar betul betapa ia tidak akan pernah bisa pergi ke mana-mana. Ia terlalu pengecut untuk melakukan hal itu. Ia ingin melawan, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya.

Ilmi menceritakan bahwa pada suatu malam, tepat pada hari setelah pernikahannya. Mulutnya terasa ingin mengeluarkan semua pikiran dan isi hatinya. Ia pernah meronta-ronta sambil memohon ampun. Kata-katanya kasar. Ia berteriak dan meminta tolong kepada orangtuanya, bahwa ia tidak ingin tinggal bersama orang yang ia nikahi itu. Ia mengaku tak cinta. Dan terus ia memaki-makinya. Sesekali ia menjerit. Sesekali ia berteriak. Sesekali ia pingsan. Matanya penuh dengan air mata. Karena kondisi yang demikian, lalu suaminya pulang. Tak membersamainya.

Hal itu semua Ilmi ceritakan pada Ahkam. Di sisi lain, Ahkam yang iba padanya, mulai untuk ingin menghidupkan kembali semangat Ilmi dalam hidup, belajar, dan semuanya yang dulu pernah ada. Ahkam tidak ingin Ilmi terpuruk, depresi, apalagi sampai bunuh diri.

Ilmi juga pernah bercerita kepada Ahkam tentang dirinya yang sering menangis di dalam kamar karena perbuatan kedua orangtuanya. Sebenarnya ia agak sedikit malu ketika menceritakan hal itu, tetapi ia merasa tidak sanggup lagi memendam kegelisahannya seorang diri. Ia benar-benar membutuhkan teman bercerita, teman yang siapa tahu bisa meringankan sedikit beban hidupnya.


Matahari tenggelam di ufuk barat. Dunia menjadi gelap. Hal itu menandakan malam telah tiba. Malam selalu hadir dengan langit yang hitam dan pekat. Malam itu, Ilmi kembali bertikai dengan mamanya. Ia masih belum bisa menerima atas perjodohannya itu. Ia meronta dan meminta agar suaminya bisa menceraikan dirinya. Namun mamanya menolak permintaan Ilmi. Kembali anak dan ibu itu bertengkar.

Hampir 5 bulan sudah pernikahan Ilmi dan suaminya berlangsung. Ilmi belum pernah bersama dan tinggal dengan suaminya. Tidak pernah mereka bercengkerama seperti penganten baru pada umumnya. Dari awal memang Ilmi tidak mau dengan suaminya itu, dan ia menolak untuk hidup atau tinggal bersama. Bahkan saat malam itu, ia meminta untuk mengakhiri hubungannya dan meminta mamanya agar bisa melakukannya.

Kembali Ilmi menangis setelah pertengkaran hebat dengan mamanya. Ia menjatuhkan diri ke kasur di kamarnya. Dan menangis sejadi-jadinya. Rutinitas itu yang menjadi kegiatan Ilmi sehari-hari setelah pernikahan dengan suaminya.

Setelah lama Ilmi menangis, ia mengambil hp dan berniat menelepon Ahkam untuk bercurhat kembali padanya.

Baca juga  Tiga Alasan Orang Memilih Golput dalam Pemilu

Kring…. Kring…. Kring….. Suara nada dering berbunyi. Ahkam terkejut, tentu saja. Ia sempat mencari-cari dari mana suara itu berasal. Ia menatap seluruh isi kamarnya. Tidak ada apa-apa. Tidak ada siapa-siapa.

Ahkam baru bangun. Ia baru datang dari kuliahnya sore tadi dan ia langsung tidur, kecape’an.

Ternyata, suara itu ada dan berasal dari dalam tas. Ia mengambil handphone yang ada di tasnya dan menatap layar hp tersebut.

“Haloo”

“Halo.. Apakah itu suara kamu?” tanya Ilmi ragu-ragu dari balik hp.

“Iyaa. Benar. Tidak ada suara yang semerdu suaraku” jawab Ahkam sambil tertawa kecil. “Kamu kenapa? Kok sesenggukan gitu?” tanya Ahkam.

“Aku tadi habis ribut lagi sama mama” jawab Ilmi

Ia kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi malam itu pada Ahkam. Sambil menangis, Ilmi kembali mengalami depresi. Ia merasa hidupnya sudah tidak ada harapan. Ilmi sudah capek dengan keadaan.

Ilmi sempat khawatir dirinya telah gila. Ia memang sering depresi, sering berpikir untuk bunuh diri, tetapi ia tidak ingin menjadi gadis gila yang celaka.

“Rasa-rasanya, aku mau stres, mas” ucap Ilmi pada Ahkam

“Kamu tidak stres, kok,” ujar Ahkam kemudian

Ilmi lalu mengatakan “Masa sih ada orangtua seperti itu? Yang tidak mempedulikan anaknya?”

Dengan nada pelan, Ahkam menjawab “Jangan begitu. Orangtua pasti memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Hanya saja, mungkin anak-anaknya yang tidak tau itu.”

“Nggak mungkin, mas.. Nggak…..” jawab Ilmi seraya berteriak, nangis sesenggukan.

Ahkam tambah iba pada Ilmi. Ia terus mencoba untuk menenangkan Ilmi. Sesekali ia menyemangati Ilmi. Memberi banyak motivasi. Dan selalu mendengar semua cerita Ilmi. Ia khawatir Ilmi stres beneran dan menyebabkannya gila. Ahkam berusaha untuk selalu mendengarkan cerita Ilmi. Ia berusaha menjadi tempat ternyaman bagi Ilmi, di saat lingkungan tidak berpihak kepadanya.

Malam-malam berikutnya, Ahkam memilih untuk lebih banyak diam di kamar kost-nya saat malam hari. Biasanya, ia lebih banyak menghabiskan waktu malam untuk nongkrong di luar, tempatnya di depan stadion bersama teman-temannya. Namun sejak saat itu, ia memilih untuk lebih sering menghabiskan waktu di dalam kost-nya sambil mendengar keluh kesah Ilmi dari balik telepon. Kadang dalam telpon Ilmi menangis, kadang melamun, kadang sambil menatap jendela, menatap atap-atap rumah, dan terdiam merenung.


Satu bulan berlalu..
Semenjak itu hubungan Ilmi dan Ahkam semakin akrab. Mereka kerap menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di perkotaan, duduk-duduk di taman kota, mendengarkan suara dedaunan yang saling bercengkerama, menyaksikan langit sore dan menikmati suasana senja.

Ilmi seperti baru menemukan arti kebahagiaan ketika ia menceritakan semua kisah hidupnya kepada Ahkam, kisah hidup yang selama ini ia simpan sendiri, sebab tidak ada yang sudi mendengarkan.

“Terima kasih karena telah bersedia mendengarkan semua kisah hidupku, mas. Aku baru tahu, ternyata berbagi cerita denganmu bisa mengurangi beban hidupku.” ucap Ilmi di suatu cafe lantai tiga yang dekat taman kota, viewnya langsung mengarah pada senja.

“Manusia adalah makhluk yang gemar bercerita, Ilmi. Aku akan tetap setia mendengar semua ceritamu, meskipun kamu tahu aku tidak memiliki segala-galanya.” ujar Ahkam

Pipi Ilmi bersemu merah.

“Mas Ahkam….”

“Ya?”

“Nikahi aku. Aku ingin hidup bersamamu.”

“Menikah?” tanya Ahkam sambil terbatuk-batuk.

“Ya.”

“Bukankah kamu sudah punya suami?”

“Memangnya kenapa? Kan aku gak mau sama itu.”

“Nggak, ah..”

“Memang kenapa mas? Kamu gak mau sama aku yaa mas?”

“Bukan begitu. Maksudku, jalan hidupmu kan masih panjang. Kamu tidak ingin meraih mimpi-mimpimu? Katanya kamu masih ingin meraih cita-cita mu dulu? Kamu kan pernah bilang, mo belajar dan lulus kuliah?”

“Yaa.. Emang begitu. Terus aku berpikir, untuk apa memiliki jalan hidup yang panjang jika aku sudah tidak memiliki harapan? Lagi pula, aku mencintaimu, mas. Aku ingin hidup bersamamu, kalau perlu untuk selamanya.”

Ahkam melihat Ilmi menghela napas panjang. Lalu berkata,

“Sebenarnya aku juga mencintaimu, Ilmi. Sudah sejak lama aku kagum pada kamu. Rasa-rasanya aku juga memiliki rasa yang sama sepertimu.”

Mereka saling menatap. Tatapan keduanya bertemu. Ingin sekali dari mereka saling menetap. Untuk bisa bersatu padu.

Ilmi gemes dan segera melingkar kan tangan kanannya pada tubuh Ahkam. Kepalanya bersandar pada bahu Ahkam. Sedangkan Ahkam hanya diam. Ia hanya melengkungkan tangan kirinya ke kepala Ilmi yang ditutup dengan kerudung.

Suasana itu begitu tenang. Dan akan selalu terkenang. Terlebih, musik cafe yang menyajikan sebuah lagu yang sangat support atas vibes itu.

Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia
Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa
Jatuh terlalu dalam cintamu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Selamanya
Ku kan setia menjagamu
Bersama dirimu dirimu oh
Sampai nanti akan selalu
Bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam cintamu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Selamanya oh
Ku kan setia menjagamu
Bersama dirimu dirimu oh
Sampai nanti akan selalu
Bersama dirimu
Seperti yang kau katakan
Kau akan selalu ada (kau akan selalu ada)
Menjaga memeluk diriku dengan cintamu
Dengan cintamu
Ku kan setia menjagamu
Bersama dirimu dirimu oh
Sampai nanti
Akan selalu
Bersama dirimu
Saat bersamamu kasih ku merasa bahagia
Dalam pelukmu


Bersambung..

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.