11 Juni 2024

Cinta Tak Selamanya Indah, Dik..! (Part 1)

7 min read

Writing tresno jalaran soko kulino

Wejangan ini, mungkin sangat pas dengan kisah yang pernah terjadi antara Ahkam dengan seorang wanita yang sangat ia cinta, sebelum keadaan membuat dirinya dengan kekasihnya; harus saling merelakan dan saling meng-ikhlaskan satu sama lain.

Sebelumnya, keduanya tidak pernah tau dari mana dan kapan rasa itu bersarang. Mungkin saja karena seringnya bersama dalam sebuah kesempatan, sering bersua pada perkumpulan-perkumpulan, sehingga, benih-benih cinta mulai tumbuh dan kian subur dalam hati kedua insan yang dilanda asmara.


Pada suatu malam yang hening, Ahkam, menghidupkan laptopnya. Pria yang gemar membaca dan menulis itu mencoba mencari file-file surat serta proposal untuk ia buat acara lanjutan dari se-abrek kegiatannya di organisasi. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah foto dengan kekasihnya itu pada saat ia kali pertama bertemu. Ia pandangi foto tersebut dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Pikirannya berjalan mundur jauh ke belakang teringat saat dulu ia berjumpa dengan orang yang pernah sangat ia damba.

“Mas.. Deadline terbit sudah kurang dua hari. Mading harus segera dicetak dan diterbitkan” tulis Ilmi via pesan whatsapp mengingatkan Ahkam pada deadline terbit mading.

Ilmi adalah sosok wanita yang cantik jelita, penuh semangat dalam belajar utamanya dalam kepenulisan. Tak ayal, ia dipasrahi amanah sebagai sekretaris redaksi pada sebuah mading kampus yang selalu terbit tiap bulannya.

“Oke, besok kita cetak madingnya” balas Ahkam, singkat.

Kegiatan aktif mencetak dan menerbitkan mading merupakan agenda wajib para redaksi mading kampus setiap satu bulan satu kali. Ahkam yang waktu itu menjadi pimpinan redaksi mading kampus sangat bertanggung jawab penuh atas penerbitan serta deadline yang sudah disepakati oleh sesama redaksi.

Keesokan harinya, karena beberapa redaksi pada gak bisa berangkat, akhirnya Ahkam dan Ilmi yang pergi ke percetakan.

Mereka mencetaknya ke salah satu percetakan besar di daerah Merauke, namanya percetakan Superstar. Siang hari yang panas, keduanya berangkat. Dalam perjalanan, tidak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir keduanya, bahkan hingga mereka berdua pulang lagi ke kampus. Dan madingpun terbit.


Pagi itu, Ilmi berdandan sangat cantik. Rapi sekali. Kalau boleh dibilang, mungkin seperti bidadari yang baru turun dari kayangan yang entah dimana keberadaan kayangannya. Kecantikannya terlihat jelas hampir sempurna setelah kerudung putih bertengger di kepalanya. Ilmi menjelma bak Cinderella. Ia sudah siap berangkat memenuhi suatu undangan.

Jauh di seberang jalan, depan Cafe Robusta, seorang pria menunggunya. Yah, di depan motor matic, Ahkam menunggu kedatangan Ilmi.

“Hey.. Kamu terlihat anggun, hari ini..” ucap Ahkam pada Ilmi

“Ah.. Mas bisa aja” balas Ilmi manja seraya mencubit pinggang Ahkam

Baca juga  Ruang Bawah Tanah

“Udah, berangkat yuk” kilah Ilmi

Keduanya pun berangkat.

Di sepanjang jalan, sinar matahari terik menyinari perjalanan Ahkam dan Ilmi. Panas. Akses menuju ke lokasi lumayan jauh. Hingga memaksa Ahkam untuk memberhentikan motornya di suatu tempat.

“Masih jauh, mas?” tanya Ilmi setelah meneguk air kelapa

“Mungkin sekitar empat puluh menit lagi akan sampai” jawab Ahkam

“Uuwuuuuh.. Jauh, yaa” cerocos Ilmi,

“Nggak juga, malah deket, kok” ucap Ahkam memperhatikan kerudung Ilmi yang sedikit acak-acakan

“Aaaaaaaahaa.. Emmmmm.. iiiiiiiiiiii.. Akuu.. capek.” ucap Ilmi, manja, bibirnya manyun

Ahkam yang melihat kelakuan Ilmi, ia senyum-senyum sendiri. Barangkali, ia menahan sebuah tawa pada tingkah laku Ilmi, hanya saja, ia lebih memilih menahan gelak tawanya, menjaga perasaan Ilmi.

Setelah sepuluh menit beristirahat di warung kelapa, Ahkam dan Ilmi melanjutkan lagi perjalanannya. Jalan menuju ke sekitar lokasi acara berlubang. Tidak rata. Tak ayal, Ahkam yang agak grogi membonceng Ilmi tangannya gemetar. Ia takut menjatuhkan motornya, pun juga takut membuat jatuh orang yang setia menemani perjalanannya; Ilmi.

Pagi berganti siang. Siang berganti sore. Dan seterusnya. Matahari yang sebelumnya berada di atas permukaan Ilmi, kini berada di sebelah baratnya. Acara selesai. Waktu sudah menunjukkan jam empat sore.

“Mas.. Pulang, yuk!”

“Iya, ayo. Kita pamitan ke panitianya dulu, ya”

“iiih.. Jangan lama-lama”

“Iyaaaa”

“Nah,, sip”

Keduanyapun pamit pulang. Panitia acara mempersilahkannya.

“Hati-hati mbak, di jalan. Semoga langgeng” canda Umar; panitia acara, pada Ilmi yang saat itu berjalan di belakang Ahkam menuju parkiran.

Ilmi hanya membalas dengan senyum pada ucapan Umar.

Entah bagaimana perasaannya.

Memang sejak sebelum dekat dengan Ahkam, Ilmi pernah curhat pada temannya, Astri, beberapa hari sebelumnya.

“Kamu tidak punya pacar, mi?” tanya Astri pada Ilmi

“Nggak”

“Aah.. Masak cewek se cantik kamu gak punya pacar?”

“nggak, tri.. Aku nggak punya pacar. Aku juga tak pernah tahu kapan hatiku ini, mau membuka kembali ruangnya untuk sesosok pria yang pernah ku temui lebih dari satu juta detik yang lalu di dalam ruang saat pelatihan diklat”

“Ciyee.. Siapa?”

“Rahasia! Weeekk”

“Siapa”

“Rahasia!”

“Ayo, siapa?” tanya Astri, kepo.

“Baiklah, biarkan aku melabelinya dengan Pria Misterius. Label yang akan selalu ku dengungkan padanya, sebelum aku mengenalnya. Hehehe..” terang Ilmi

“Ciyeee.. Terus.. Terus..” kepo Astri

“Meskipun tidak terpaut jarak yang cukup jauh saat itu karena berada dalam ruangan yang satu, hatiku terasa syahdu saat melihat dan sering aku perhatikan orang itu. Walau hanya dengan lirikan mata, yang ku harapkan saat itu, dia menoleh padaku lalu memberikan senyum sumringah.”

Baca juga  Kandasnya kisah mamad dan iin

“Terus.. Terus..” cerocos Astri pada Ilmi, penasaran.

“Rasa itu semakin hari semakin mengagumi, semakin membuat penasaran ingin mengenal. Namun, sepertinya dia tak pedulikan itu, dia tak banyak bicara selalu bermain dengan sikap cueknya” jelas Ilmi


Ucapan dan canda Umar membuat Ilmi tak enak hati pada Ahkam. Dengan motor matic miliknya, Ahkam memacu dengan kecepatan rendah, karena wanita yang ia bawa itu, tidak begitu berani pada kecepatan tinggi.

Dalam perjalanan pulang selepas acara, Ahkam mengajak dan menawarkan pada Ilmi untuk menikmati pemandangan alam yang terletak di sebuah bukit tinggi, se arah dengan jalan pulang pasca acara yang mereka datangi

“Il.. Mo langsung pulang?”

“Terserah sii, mas. Emang kalau gak pulang, mau kemana mas??”

“Refresh.. Hhhh”

“Okelah. Asal jangan malam-malam, yaa..”

“Siap”

Waktu menunujukkan jam 15:46 WIB

Ahkam membelokkan motornya ke arah kiri, keluar dari akses jalan raya utama menuju kota. Ia berusaha menyisir jalan kecil menuju Desa Gabas untuk sampai pada suatu bukit tinggi, menikmati suasana hari di kala hampir terbenamnya mentari.

“Parkir lima ribu, karcis dua orang sepuluh ribu” tagih tukang parkir petugas desa Gabas kepada Ahkam

Tanpa banyak bertanya ini dan itu, Ahkam langsung mengeluarkan uang dari saku bajunya dan memberikannya kepada tukang parkir

“Gak ada uang kecil, mas?” kata kang parkir

“Duh.. Nggak ada” kata Ahkam

“Ini mas, aku ada uang kecil” celetuk Ilmi, seraya merogoh tasnya dan menyodorkan uang kepada kang parkir

“Okee. Ini karcisnya. Disimpan, yaa. Jangan sampai hilang” jelas kang parkir

Keduanya naik. Mendaki. Mencari destinasi indah dari bukit yang tinggi. Pohon-pohon rindang menghiasi. Burung-burung beterbangan kesana-kemari. Setapak demi setapak dijajaki keduanya.

“Mas.. Aku capek”  Ilmi mengeluh sudah sangat capek

“Bentar lagi sampai, kok. Ayo terus jalan” kata Ahkam 

“iiiiiih.. Kah,” keluh Ilmi, manja..

“Ayoh, semangat!” canda Ahkam mendorong Ilmi

Sensasi bagaimana keindahan awan saat matahari berwarna jingga, membuat perfect keindahan suasana sore kala menyapa.

Keindahan alam pada bukit tinggi juga tidak kalah indahnya dengan jalan menuju bukit yang terdapat pada tempat itu.

Namun untuk menuju ke puncak bukit, pengunjung harus mendaki dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh antara tiga puluh menit dari bawah.

Pengunjung harus menyusuri jalan setapak yang dibuat oleh warga setempat. Dan akan menyusuri hutan rimba dengan pepohonan nan rindang serta tanjakan-tanjakan kecil, juga padang rumput ilalang setinggi dada yang menemani sampai ke puncak.

Hamparan bebatuan di puncak bukit nan indah, kerap menjadi latar para pengunjung untuk berfoto atau sekadar mengabadikan kenangan. Selain dikenal dengan nama Bukit Tinggi Desa Gabas, penduduk setempat juga menyebut bukit tersebut dengan Bukit Lampion. Sebab, terdapat banyak lampu lampion disana.

Baca juga  Tiga Alasan Orang Memilih Golput dalam Pemilu

Ilmi dan Ahkam yang akhirnya sampai puncak, keduanya merasakan sensasi yang luar biasa. Keluh yang tadinya keluar dari mulut Ilmi, kini berubah menjadi syukur. Betapa, indahnya ketinggian pada puncak bukit yang bisa mereka jajaki.

“Ayo, il. Aku fotoin kamu” Ahkam mengambil kamera dan Ilmi memandangi nya, ia berpose lalu tersenyum pada kamera

Melihat senyum Ilmi, sontak, Ahkam menelan ludah. Bergumam dalam hati “Subhanallah.. Indahnya pakai banget”

Jegrek.. Jegrek.. Jegrek..

Setelah sekian banyak berfoto-foto, Ahkam ber-istirahat.

Pada bebatuan besar, saat menikmati sore, ketika Ahkam duduk bersandar di sebelah batu besar memandangi awan, Ilmi datang menghampirinya. Ia ingin melihat hasil jepretan kameranya.

Ilmi mendekat pada Ahkam. Sangat dekat. Kala itu hati Ahkam berdetak tak karuan. Tubuhnya terasa lemas. Dan ia tak tau apa yang harus dilakukan.

Ilmi mendekat dengan senyum manis. Wangi parfum menyeruak dari pakaiannya. Sedangkan Ahkam membalas senyum itu dengan ragu. Ilmi yang datang, segera ingin melihat hasil foto.

Ilmi pandangi satu-persatu gambar dalam kamera. Ia scroll-scroll atas lalu ke bawah. Setelah banyak melihat hasil jepretan, Ilmi duduk bersandar dan mengajak Ahkam bercerita.

Terlihat, Ahkam canggung sekali. Tangannya bergemetar memegang kamera. Namun, ia berusaha untuk biasa saja.

Akhirnya, Ilmi yang lebih banyak bercerita daripada Ahkam. Dengan seksama, Ahkam juga memperhatikan ekspresi wajah Ilmi saat bercerita. Sangat tekun ia mendengarkan setiap kata cerita yang Ilmi ucapkan.

Sampai pada suatu kalimat, Ilmi berhenti bercerita.

Ahkam segera memalingkan pandangan. Berusaha mengalihkan perhatian Ilmi

“Eh, lihat itu. Langitnya indah.” Ahkam menunjuk ke arah langit bagian barat.

Dengan cepat, Ilmi memalingkan pandangan ke arah di mana matahari akan beristirahat.

“Wah! Indah sekali” kata Ilmi

“Tentu. Itu sangat indah. Kau tahu, aku sangat suka dengan senja” kata Ahkam dengan kagum.

Ahkam menatap Ilmi lalu tersenyum. Begitu pula sebaliknya.

“Ternyata kau juga menyukai senja,” ucap Ahkam dalam batin

Sebentar Ahkam lemparkan pandangan pada ufuk barat. Kemudian ia kembali menatap Ilmi. Mengamati wajah Ilmi dengan kagum.

“Ia benar-benar sempurna” batin Ahkam.

Ia juga mulai berfikir, “Ilmi lebih indah daripada senja” ucapnya dalam hati.

Suara telepon membuyarkan kekagumannya. Telepon itu berdering dan mati. Ilmi menatap ke arah suara itu berasal. Ia tersenyum melihatnya. Ia memalingkan pandangan. Mata keduanya bertemu. Ilmi kembali tersenyum pada Ahkam. Lalu merebahkan kepala dan menyandarkannya tepat pada bahu Ahkam.


Bersambung..

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.