23 Mei 2024

Film “Guru Tugas” Diskriminasi Pesantren, Santri Harus Berani Beri Film Tandingan!

4 min read
Cerita guru tugas yang luar biasa lebih sering didengar langsung oleh sahabat-sahabat santri daripada kisah yang difilmkan Akeloy Production. Banyak kisah guru tugas yang menginspirasi tapi tidak pernah diangkat oleh pesantren atau mereka yang mengaku perduli pada pesantren.

Di Minggu pertama bulan April ini, lini masa sosial media Madura sedang ramai dengan short movie Madura “Guru Tugas” yang diproduksi oleh Akeloy Production.

Penayangan short movie Madura “Guru Tugas” 1 di kanal YouTube Akeloy Production pada 24 April 2024 telah banyak mengundang atensi masyarakat dan puncaknya pada 3 Mei “Guru Tugas” 2 telah nangkring di YouTube menjadi bahan perbincangan hangat di sosial media baik di Instagram, Tiktok, WhatsApp bahkan diperbincangan offline pun tidak ketinggalan.

Semenjak short movie kedua ini, jujur saja dari banyak animo masyarakat semakin mengarah ke kontra, bukan lagi pro-kontra. Pasalnya film ini; Satu, tema yang diangkat sangat berdekatan dengan masyarakat Madura. Dua, ada adegan panasnya alias 18 plus-plus. Tiga, minim edukasi, meskipun kata Yus Muhammad, produser dari film ini mengatakan untuk menunggu part 3 dari film tersebut.

Recap Film Guru Tugas 1 & 2
Film ini mengangkat kisah guru tugas dari pesantren. Ada 2 santri yang ditugaskan oleh pesantren, satu namanya Ust. Supri, ia ditugaskan ke Desa Pecenan di Banyubunih Kabupaten Bangkalan sedangkan satunya Ust. Kurdi ditugas ke Pulau Bawean. Supri sebagai pemeran utama dalam film ini dijemput oleh PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas).

Di tempat tugas, Ust. Supri mengajar murid madrasah. Aini salah satu murid Ust. Supri dimintai tolong oleh bibinya untuk mengantar makanan pada guru tugas. Nah dari situlah, Ust. Supri memiliki rasa kagum akan kencatikan Aini yang memiliki Bongkong Fortuner.

3 bulan kemudian, seperti biasa Ust. Kurdi dan Ust. Supri sebagai teman seperjuangan yang sekarang sama-sama berada di tugasan, mereka saling berkabar lewat telpon. Selain itu, Ust. Kurdi juga sambil mengingatkan Ust. Supri untuk berhati-hati di tugasan (tempat tugas).

Baca juga  DPM Unira Adakan Pelantikan Sekaligus Sosialisasi 4 Pilar MPR RI

Sewaktu di kelas, Aini diperintahkan oleh Ust. Supri untuk belajar tambahan di kamarnya. Di sela-sela belajar itu Ust. Supri sudah memiliki pemikiran kotor terhadap Aini, lalu Ust. Supri mengeluhkan sakit dan meminta Aini untuk mengeroknya sampai-sampai digauli oleh Ust. Supri.

Semenjak Aini diperkosa hari itu, ia jatuh sakit dan tertekan karena terus dipaksa untuk melayani nafsu birahi Ust. Supri dan apabila Aini tidak mau, ia diancam akan menyebarluaskan video vulgarnya.

FYI: guru tugas dari pesantren biasanya adalah santri yang telah lulus dari jenjang pendidikan di pesantren. Analoginya ya kurang lebih kalo SMA/SMK ada magangnya, jika kuliah ada KKN seperti itu gambarannya.

Pro-Kontra Film Guru Tugas
Seperti yang telah disampaikan di atas, film ini menuai banyak kecaman karena mendiskreditkan pesantren sebagai penyalur tenaga pendidik guru tugas di berbagai kota/desa di Indonesia terlebih di Madura sendiri. Berikut beberapa respon dari tokoh Madura yang telah menyebar luas di sosial media.

“Sementara, dalam video yang ada itu hanya menampilkan sisi negatif saja, hampir tidak menampilkan sisi positifnya sama sekali. Jika memang ada perilaku satu atau dua orang guru tugas yang kurang baik di tengah-tengah masyarakat, jangan mengabaikan kebaikan guru tugas, sehingga dipukul rata. Itu kan hanya oknum saja”.

KH. Taufiqurrahman Khozin, Ketua Rabitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Pamekasan

“PGMNI menilai, Film Guru Tugas konten Kreator Akeloy Production sangat menciderai nama baik pesantren dan guru tugas karena film tersebut terkesan menggeneralisasi perbuatan guru tugas seperti yang difilmkan, sehingga tayangan film itu tidak mengedukasi masyarakat, Apalagi yang menonton film juga berpotensi dari kalangan anak-anak atau remaja,”.

Moh. Homaidi, Pengurus Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Jatim

Baca juga  Inilah alasan wanita pakai skincare

“Penyo’on derih abdinah Alfaqih langkong sae ahsan wa afdol bahakan ghintoh koduh film panjenengan kakdintoh e hapus, film panjenengan sangat tidak mendidik bahkan, film panjenengan sangat deddih fitnah, film jenengan sangat majhubek ma geger dek ka muljenah dek ka harga diri sedejeh guru tugas se bedeh kakdimmah bisaos, bahakn film panjenengam kakdintoh sangat mageger dek nama madrasah ben pesantren-pesantren”.

KH. Saiful Qohhar Tobroni, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah Sebaneh

Dan masih banyak lagi yang menyuarakan untuk men-take down dan me-report Chanel YouTube Akeloy Production. Sedangkan dari yang pro hanya segelintir orang dan itupun cuman di kolom komentar dan story saja, tidak berbentuk lembaga atau komunitas tertentu.

Satu lagi yang sangat membuat orang mengecam film “Guru Tugas” ini, karena di deskripsi YouTube sebagai berikut: “Kali ini kami berkesempatan menyajikan sebuah short movie, yang mana diambil dari alur kisah nyata yang banyak terjadi di Madura, semoga kalian sahabat² @Akeloy Production terhibur dan menjadi pelajaran untuk kita semua. “Salam Settong Dhere” (Madura red).

“kisah nyata yang banyak terjadi di Madura” “Kisah nyata yang banyak terjadi di Madura” entah penulis yang gagal memahami dari teks tersebut atau bagaimana, gak paham. Film ini adalah kisah nyata yang banyak terjadi di Madura. Tentu meskipun tidak memiliki survei secara langsung, hal seperti ini mungkin bisa terjadi di real life, tapi kalau secara menyeluruh rata-rata guru tugas seperti itu, penulis berpendapat tidak demikian.

Kesimpulan

Creator Madura semakin berkembang dengan ide gila, kreatif, out of the box dan sering mengangkat budaya serta kultur Madura, hal ini positif dan banyak disenangi oleh masyarakat Madura. Madura juga bisa berkarya.

Baca juga  BEM KM Universitas Trunojoyo Tanpa Intervensi Sampaikan Aspirasi Peduli Demokrasi

Tentu perkembangan zaman, juga di dunia perfilman Madura harus dibarengi dengan literasi dan edukasi terkait apa itu film sehingga masyarakat siap menikmati film yang disuguhkan oleh creator-creator kita. House produksi juga harus memperhatikan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita ketika mengangkat sebuah isu tertentu karena sebaik apapun tujuan dari karya yang disuguhkan, penilainya tetap penonton yang menikmati karya tersebut.

Adanya film seperti ini tidak dapat dihindari, bahkan jauh sebelum film ini muncul, di perfilman Indonesia telah banyak mengangkat cerita yang lebih parah dari “Guru Tugas” ini, pesantren memang sangat dirugikan, tapi daripada hanya mengecam dan menghujat film ini bukankah lebih bijak jika pesantren juga menyuguhkan film yang menceritakan kisah guru tugas. Cerita guru tugas yang luar biasa, lebih sering didengar langsung oleh sahabat-sahabat santri daripada kisah yang difilmkan Akeloy Production. Banyak kisah guru tugas yang menginspirasi tapi tidak pernah diangkat oleh pesantren atau mereka yang mengaku perduli pada pesantren.

Ayo kita buktikan guru tugas dari pesantren itu bermoral dan beretika tinggi dengan ilmunya yang telah didapat dari pesantren.

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.