11 April 2024

Jangan menilai seseorang hanya dari sekilas mata memandang

3 min read
Jangan menilai seseorang apalagi menjustifikasi sesuatu hanya dari sekilas mata memandang. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini memberi contoh..

“Jangan terlalu percaya pada pandangan pertama, karena pertama dari terbitnya fajar itu adalah bohong”

Nules.co – Mata, menurut beberapa ahli, adalah sesuatu yang melekat pada tubuh makhluk (manusia dan hewan) untuk melakukan penglihatan atau lebih simpelnya, mata adalah alat untuk melihat. Begitulah Kira-kira. Simpelnya sih..

Dari mata ini, pada dasarnya, selain hanya alat untuk melihat, juga sebagai alat untuk mengukur, merasakan, mengambil pelajaran, bahkan menilai sesuatu tentang hal yang ia lihat. Menilai seseorang untuk orang. Dan entahlah jika untuk hewan.. Hehehe..

Bahwa memang hari ini, apa yang orang lihat, adalah itu interpretasinya. Hanya sekilas pandang. Lalu dengan gampangnya, memberi gambaran bahkan penilaian (meskipun tidak semuanya begitu, tapi kebanyakan seperti itu)

Hal semacam ini tidaklah keliru (menurut penulis). Hanya saja, mungkin kurang benar. Karena, apa yang manusia lihat secara kasat mata, kadang tidak semuanya seperti apa yang terjadi pada kenyataannya. Seperti yang terjadi pada kisah Nabi Musa saat belajar kepada Nabi Khidir. Konon, Nabi Musa selalu protes kepada Nabi Khidir karena apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir secara kasat mata, keliru.

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini diabadikan dalam Surah Al-Kahfi. Berikut kisahnya:

Musa berkata kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajariku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

Musa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam satu urusan pun.”

Baca juga  Kebebasan atau kebablasan?

Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

Berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melubanginya. Musa berkata, “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

Dia (Khidir) berkata, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku?’

Musa berkata, “Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.”

Berjalanlah keduanya, hingga keduanya bertemu dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa kemudia berkata, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.”

Khidir berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sungguh kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

Musa berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, janganlah kamu membolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.”

Keduanya pun berjalan, hingga keduanya sampai di penduduk suatu negeri. Mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu.

Musa berkata, “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”

Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu maksud perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

“Adapun bahtera (perahu) itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku merusak bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja (dzalim) yang akan merampas setiap bahtera.”

Baca juga  Membangun Semangat Kebersamaan

“Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah orang mukmin. Kami khawatir bahwa dia akan memaksa kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Kami menghendaki supaya Rabb mereka mengganti anak lain bagi mereka, yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih mendalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).”

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh. Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan tidaklah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah maksud perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya’.” (Surah Al-Kahfi: ayat 66-82)

Memang, ada banyak hikmah yang bisa diambil dari pertemuan dua sosok manusia pilihan Allah SWT itu. Di antaranya pelajaran berharga tentang adab, kesabaran, hakikat ilmu serta hikmah agar tidak menyombongkan diri.

Terlebih, agar tidak selalu menilai seseorang apalagi menjustifikasi sesuatu hanya dari sekilas mata memandang. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini telah mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa ilmu Allah benar-benar sangatlah Mahaluas.

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.