11 April 2024

Jangan Ragu Berbuat Baik! (Tanggapan atas tulisan”Beda Orang Baik dan Orang Ada Maunya”)

2 min read
saya tergelitik untuk menanggapi tulisan Ahmad Ka'ab dengan judul "Beda Orang Baik dan Orang Ada Maunya" yang dipublikasikan (07/02) kemarin

Nules.co – Dari tadi saya tergelitik untuk menanggapi tulisan Ahmad Ka’ab dengan judul “Beda Orang Baik dan Orang Ada Maunya” yang dipublikasikan (07/02) kemarin. Terus terang ketika membacanya, hati saya terpecah antara membenarkan atau sekedar ingin mengiris tipis pesimismenya.

Membenarkan, ya karena terkadang itulah realita yang terjadi. Betapa banyak orang yang ketika ada maunya, mendekati kita dengan wajah manis dan perhatian yang bertubi. Namun, ketika keperluannya selesai, ya tidak ada apa-apa lagi. Selesai ya selesai, bahkan terkadang seolah tidak kenal lagi. Habis manis, sepah dibungkus plastik, dilakban dan dibuang. Dalam hal ini saya setuju dengan yang ditulis oleh Ahmad Ka’ab.

Namun, yang ingin saya tanggapi adalah, jangan sampai hal-hal tidak menyenangkan tersebut membuat kita pesimis bahkan trauma untuk berbuat baik kepada siapapun. Saya ingin tekankan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Segala macam kebajikan pastilah mendapatkan balasan kebaikan pula.

Sebagai contoh, si A pernah meminta bantuan kepada B. Setelah kebutuhan atau keinginannya tercapai, dia tidak membalas kebaikan si B.

Secara kasat mata, si B tampak dirugikan. Inilah bisa jadi yang dimaksud oleh Ahmad Ka’ab mengenai kebaikan yang tak terbalaskan.

Bagaimana jika kita gunakan pandangan yang berbeda? Okelah si B tidak mendapatkan balasan yang setimpal. Namun, di situlah sisi kebaikan itu agar suatu saat ketika ada lagi orang yang meminta tolong padanya, jangan sekali-kali terpikir untuk mendapatkan balasan. Nolong ya nolong aja. Titik. Di situlah keikhlasan hakiki ditantang.

Kebaikan lainnya, dengan tidak menolongnya si A ketika giliran si B membutuhkan, akan menjadi pelajaran tauhid nyata tentang Allaahu As-Shomad. Bahwasannya hanya Allah tempat bergantung segala sesuatu. Lihat, betapa kebaikan si B dulu tidak sia-sia, bukan? Belum lagi balasan kelak di akhirat.

Baca juga  Beda orang baik dan orang yang ada maunya

Saya jadi teringat pesan mendiang Abah mertua saya, bahwa ketika menolong seseorang, bersikaplah seperti kita menyikapi kotoran yang keluar dari tubuh kita. Keluarkan, dan lupakan. Jangan diharap balik lagi dan jangan pula pikirkan bentuknya sekarang seperti apa. Jijay banget, ya, kalau sampai mikir begitu jauh? Hehe…

So, jangan ragu berbuat baik. No matter what! Mau dibalas kek, mau dilupakan kek, mau dicuekin setelah susah payah menolong, no problem. Selalu ada balasan kebaikan untuk kebaikan, dan sebaliknya. Tulisan tanggapan ini saya tutup dengan kutipan ayat Al-Qur’an terkait tema ini.

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). (QS. Ar-Rahman, Ayat 60)

وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim. (QS Asy-Syura, Ayat 40)

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.