11 April 2024

Pelaku Skripsi Adalah Pejuang? Haaa?!! Masak Gitu Aja Pejuang?

5 min read

Cheerful Asian muslim businesswomen talking together in their workplace during the break. Two muslim woman in business casual dressed making a discussion together , diversity in nation and religion.

Nules.co – Skripsi. Begitu sebutannya. Sebuah tugas akhir bagi mahasiswa yang ingin menjajaki lulus kuliah dan wisuda S1 untuk mendapatkan gelar sarjana. Bagi saya, skripsi adalah suatu hal yang sulit. Menurut sebagian orang juga.

Namun, saya juga menghargai pendapat yang menyatakan bahwa skripsi itu mudah, tidak sulit. Pendapat yang menyatakan mudah ini biasanya keluar dari orang yang sudah menjalani proses skripsi dan menyelesaikannya lalu mereka akan atau sudah wisuda (Yaa.. Pantas saja bilang mudah)

Cobak dulu pas waktu awal mau mengerjakan atau sedang mengerjakannya, pasti ngeluh juga. Merasa sulit juga, walaupun hanya sedikit. Iya kan? Ngaku nggak? Ngaku nggak? Ngaku aja deh. Masak nggak mau ngaku?

Nah, kemudian, karena memang benar-benar skripsi itu memang sulit, maka terdapatlah ‘drama’ di dalamnya. Sebuah pertunjukan yang mahasiswa semester akhir harus merasakannya, bahkan menjadi pemerannya.

Tentu, ‘drama’ tersebut merupakan bumbu-bumbu penyedap agar memang lebih menguatkan argumentasi bahwa skripsi itu memang benar-benar sulit. Bahwa juga skripsi itu memang pantas untuk menjadi tugas akhir bagi mahasiswa sebelum mereka menjadi sarjana. Karena tentu saja, hal sulit tanpa bumbu-bumbu di dalamnya, pasti kurang terasa sulitnya. Pasti kurang terasa sedaapnya. Hehehe..

Dan ketika hal sulit ini disertai dengan ‘drama’, maka tentu saja akan lebih terasa nuansa kesulitannya, serta harus ada perjuangan untuk mengerjakannya. Maka tak ayal, kita sering mendengar dan menobatkan pelaku skripsi ini dengan sebutan pejuang skripsi. (Hah.. Masak gitu aja dibilang pejuang?)

Lalu, ‘drama’ apa saja yang tersaji dalam proses pengerjaan skripsi ini sebelum mahasiswa banyak mendapat kata semangat dan selamat? Disini penulis ingin menguraikannya dari dua dimensi. Yakni, dari dimensi mahasiswa dan dari dimensi dosen. Bagi mahasiswa, beginilah ‘drama’ itu berjalan :

  1. Menganggap mudah atau enteng skripsi.
    Yah, inilah bumbu-bumbu awal dari sebuah tindakan besar dan nyata mahasiswa yang terjadi ketika sedang skripsi. Menganggap enteng tak ayal membuat mereka kesulitan. Harusnya, mahasiswa seperti ini sadar, bahwa skripsi itu tugas akhir perkuliahan. Tugas akhir. Akhir sebelum mereka dapat gelar sarjana. Jadi, yaa gak mungkin ini enteng. Gak mungkin skripsi ini sama dengan tugas membuat makalah yang hanya bisa dikerjakan bahkan dalam waktu satu malam.
  2. Tidak punya laptop atau komputer.
    Mahasiswa seperti ini, kok masih ada yaa? Dalam kondisi hampir klimaks kuliah, masak masih merasa tidak punya laptop? Selama kuliah dari semester awal hingga menjelang semester akhir, mengerjakan tugas lewat apa? Numpang nitip nama ketika pengumpulan tugas makalah? Duh.. Kuliah kok se dramatis ini, sih..? Jika memang tidak punya laptop karena memang tidak punya (tidak mampu membeli), tentu mahasiswa bisa menyewa dengan uang seadanya. Atau, jika memang tidak punya uang sama sekali, yaa kan bisa meminjam laptop teman, keluarga, atau tetangga. Jika memang masih tidak ada dan merasa belum ada laptop untuk mengerjakan skripsi, yaa memang betul, ini, sih, ‘drama’
  3. Tidak menemukan referensi atau buku atau rujukan atau apalah. Terserah. Terpenting, alasan ini acap kali keluar dari mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Entah mengapa hal ini masih sempat diucapkan? Apa karena yang mengucapkan gaptek atau bagaimana? Yang jelas, jika memang yang dikeluhkan adalah tidak ada referensi atau buku, tentu, di semua perguruan tinggi menyediakan buku dan terdapat perpustakaan. Atau jika malas ke perpustakaan, mahasiswa bisa mencari referensi lewat jurnal ilmiah yang bisa diakses lewat Google. Jurnal dan penelitian serta teori dari A-Z lengkap ada di Google. Lalu apa yang masih jadi alasan? Gak punya hp, gak punya paket data? Ah, drama! ??
Baca juga  Mendaur Ulang Sampah Plastik, Yuk Buat Ecobrick!

Selanjutnya, adalah dari dimensi dosen atau dospem (dosen pembimbing). Acap kali, hal ini terjadi dan dirasakan mahasiswa dimanapun kuliahnya, dimanapun kampusnya. Penulis hanya mengulas sebagian kecil yang terjadi, diantaranya :

  1. Sulit dihubungi
    Yah, inilah ‘drama’ pertama. Dosen pembimbing (dospem) adalah sebutan dari dosen yang mengajar atau mendampingi mahasiswa ketika mengerjakan skripsi. Lalu kenapa sulit menghubungi dospem masuk ke dalam bagian ‘drama’? Bagaimana tidak, mahasiswa yang belum pernah melaksanakan skripsi, tentu harus dibimbing oleh dosen pembimbing. Alih-alih mahasiswa mendapat bimbingan skripsi dari dospem, mahasiswa malah sering mendapat yang sebaliknya. Mengatur jadwal bimbingan dengan dospem, itu sama seperti mengundang penceramah kondang di bulan Sya’ban. Bahkan untuk ngechat via WhatsApp saja ke dospem, kadang sering gak dibalas hanya diread doang. Duh.. Atau ia membalas, tapi setelah tiga hari dari pesan masuk, atau setelah satu minggu, bahkan ada yang sampai satu bulan. Kenapa kok nggak sampai satu semester saja yaa, baru membalas pesan tersebut. Mau bilang ghosting, malah takut dikira gak sopan?!
  2. Selalu menganggap mahasiswa salah dan dirinya lah yang benar. Eh, masak kayak gitu sih? Duh, maaf bapak/ibu dosen. Sekali lagi maaf. Bukan mahasiswa tidak ingin disalahkan tentunya, tidak. Tapi memang ini banyak dirasakan oleh mahasiswa. Penolakan judul skripsi dengan berbagai macam alasan, corat-coret kertas lembaran, serta pertanyaan dan pernyataan ‘membunuh’ dalam ujian, sidang dan lainnya tentu membuat mahasiswa down atau putus asa. Yaa.. Memang tugas dosen seperti itu, sih, menyalahkan agar bisa membenarkan. Iya nggak? Iyaa donk. Tapi setiap mahasiswa yang skripsi, pasti aja mereka ada salahnya. Pasti aja ketemu salahnya. Dan pasti saja itu dipermasalahkan, walaupun hanya sebuah titik atau koma. Iya, kan? Padahal yaa mahasiswa sudah ngeprint banyak lembar kertas, sudah bolak-balik bimbingan banyak kali, sudah revisi beberapa kali, eh, malah disuruh ngulang lagi. Disuruh buat lagi. Bahkan, nih yaa, beberapa teman mahasiswa hampir di seluruh kampus se Indonesia harus buat dari awal lagi materi skripsinya. Duh.. Bisa kebayang, kan? Betapa memang skripsi ini sulit dan banyak drama perjuangannya.
Baca juga  Remaja di Lampung Ini Meninggal Dunia Karena Perang Sarung

Jadi, itulah beberapa ulasan mengapa memang skripsi itu sulit. Dan tampak sangat butuh perjuangan. Yaa, gak salah, kan??

Makanya banyak penobatan bahwa pelaku skripsi itu adalah pejuang skripsi. Namanya juga tugas akhir, yaa pasti sulit, lah. Sarjana kok mau didapat secara cuma-cuma? Pasti harus butuh banyak drama perjuangan. Betul nggak?

Sekian.


Catatan : Tulisan ini tidak mengucilkan apalagi menafikan mahasiswa yang memang bersungguh-sungguh berusaha mengerjakan skripsi. Dan juga tidak menafikan dosen atau dospem yang benar-benar membimbing mahasiswa dalam proses skripsi. Tentu, mahasiswa yang bersungguh-sungguh mengerjakan skripsi itu benar-benar ada, dan dosen yang bersungguh-sungguh membimbing mahasiswa itu juga benar-benar ada. Adapun tulisan ini hanya candaan ringan yang tentu juga benar-benar ada. Tulisan ini bisa dibuat perbandingan pembahasan dengan tulisan yang mengulas pendapat atau argumen yang berbeda bahkan pula sebaliknya. Terima kasih dan Mohon maaf atas ketersinggungannya.

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.