11 April 2024

Lora Ismail Al-Kholilie: Hadist yang Menerangkan Keutamaan Tarawih Itu Tidak Memiliki Sanad

4 min read

Benarkah ada hadits keutamaan Tarawih dari malam pertama sampai malam ke30?

Kritik Hadits yang viral setiap bulan Ramadhan

Setiap bulan Ramadhan, kita seringkali menemukan hadits yang biasanya selalu disebarkan oleh banyak masyarakat, salah satunya adalah hadits keutamaan Tarawih komplit mulai malam pertama sampai malam terakhir, kalian mungkin pernah menemukan sebagian kerabat atau sahabat yang menyebarkannya dan menjadikannya sebagai status WA setiap hari di bulan suci ini.

Tapi yang menjadi masalah disini, banyak yang mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits Maudhu’ alias palsu, apakah benar seperti itu realitanya? mari kita bahas secara ilmiah dan objektif

  1. Bertentangan dengan sejarah shahih dari sholat Tarawih

Ada beberapa “kejanggalan” yang membuat kita patut mencurigai hadits ini, yang pertama adalah konten hadits ini yang sangat jelas bertentangan dengan sejarah dari sholat Tarawih itu sendiri, buat kalian yang mengkaji ilmu hadits dan sejarah Nabi, pasti sudah mengetahui bahwa Tarawih berjamaah “Continue” 30 malam berturut- turut belum ada pada zaman Baginda Nabi, melainkan baru ada pada masa kepemimpinan Sayyidina Umar :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ ، قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةً، أَنَّ عَائِشَةَ، أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي المَسْجِدِ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا ، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، فَصَلَّوْا مَعَهُ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَكَثُرَ أَهْلُ المَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ المَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ، فَلَمَّا قَضَى الفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَتَشَهَّدَ ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ، لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، فَتَعْجِزُوا عَنْهَا قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : تَابَعَهُ يُونُسُ (رواه البخاري)

Baca juga  Berpikir dulu atau bertindak dulu? Ini jawabnya!

Hadits Shahih yang diriwayatkan Imam Bukhori diatas jelas mengatakan bahwa Baginda Nabi Saw hanya pernah Sholat (di tengah malam di bulan Ramadhan, belum ada nama “Tarawih” ketika itu) selama 3 malam, setelah itu beliau tidak pernah lagi keluar untuk sholat di masjid selama Ramadhan bersama para sahabat karena khawatir hal itu akan diwajibkan atas para ummatnya sedangkan mereka tak akan mampu. tentunya aneh jika tiba-tiba dan “ujug-ujug” ada hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan Tarawih secara komplit mulai malam pertama sampai malam terakhir seperti hadits yang viral di status-status Wa tsb

  1. Nama “Tarawih” belum ada di zaman Baginda Nabi

Para pakar sejarah sepakat bahwa sholat malam berjamaah di masjid setiap malam Ramadhan baru dilaksanakan oleh Sayyidina Umar dalam masa kepemimpinannya, Imam Thobari mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun 14 Hijriah atau 922 Masehi, dan masih belum ada penamaan “Tarawih” pada waktu itu, tidak ada data hadits baik Sabda Baginda Nabi atau komentar para sahabat yang menyebutkan nama “Tarawih” secara spesifik, bahkan Sayyidina Umar sekalipun. Nama “Tarawih” baru muncul setelah ummat Islam pada waktu itu “menyela-nyela” setiap 2 atau 4 dari 20 Rakaat Tarawih dengan “rehat” sejenak, rehat ini yang dalam bahasa arab dinamakan “Tarwihah” yang dalam bentuk pluralnya disebut “Tarawih”

وَالتَّرَاوِيحُ جَمْعُ تَرْوِيحَةٍ وَهِيَ الْمَرَّةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الرَّاحَةِ كَتَسْلِيمَةٍ مِنَ السَّلَامِ سُمِّيَتِ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ التَّرَاوِيحَ لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا اجْتَمَعُوا عَلَيْهَا كَانُوا يَسْتَرِيحُونَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ

(Fathul Bari, 4/250)

  1. Hadits ini sama sekali tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits yang kredibel

Ini salah satu poin yang paling janggal (emang boleh sejanggal itu?) Fakta dan realita yang tidak bisa dipungkiri adalah hadits ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab Hadits yang “Mu’tabaroh”, bahkan dalam kitab-kitab yang menjelaskan hadits-hadits paling palsu sekalipun. padahal adanya sebuah “referensi” merupakan syarat paling utama untuk menentukan status dari sebuah hadits. hadits ini hanya disebutkan dalam kitab “Durrotunnasihin” sebuah kitab petuah dan nasehat yang di-blacklist oleh banyak ulama pakar hadits karena memuat hadits-hadits palsu tak bersanad dengan prosentase yang sangat besar.

  1. Iming-iming pahala yang sangat “wah” dan luar biasa
Baca juga  Pentingnya pendidikan dalam pembangunan masyarakat

Para ulama pakar hadits mengatakan bahwa salah satu indikasi “kepalsuan” hadits adalah iming-iming pahala yang sangat besar untuk ibadah dengan “effort” yang sederhana, tentunya ini hanya indikasi yang sekuat apapun, penentu utamanya adalah “sanad” dari hadits tsb, pahala “wah” dan “wow” dalam hadits ini semisal mendapat pahala mengkhatamkan 4 kitab suci, diberi anugerah seperti ibadahnya para Nabi, seperti melakukan 1000 haji, dll.

  1. Hadits ini tidak memiliki sanad sama sekali

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena sanad maka siapa saja bisa mengatakan apa yang dia suka”

Ini adalah puncak dari kejanggalan hadits ini, hadits ini tidak punya sanad sama sekali! Hadits ini hanya dinisbatkan kepada Sayyidina Ali kepada Baginda Nabi dalam sebuah kitab problematik yaitu Durrotunnasihin tanpa menyebutkan silsilah sanad dari hadits tsb. padahal kita ketahui sendiri bahwa sanad atau mata rantai informasi adalah elemen paling penting dalam menentukan benar tidaknya sebuah ucapan yang diklaim sebagai Sabda Baginda Nabi Saw.

  1. Komentar para ulama terkait hadits ini

KH. Najih Maimoen Zubair memiliki kitab khusus yang menjelaskan status hadits-hadits yang ada dalam kitab Durrotunnasihin bernama “Qurrat Ain Annadzhirin fi Takhrij Ahadits Durrotinnasihin”, tulis beliau ketika mengomentari hadits ini sebagai berikut:

لم نقف عليه في مراجعنا

“Kami tidak menemukan hadits ini dalam referensi-referensi kami”

Kh. Najih Maimoen Zubair

“Hadis ini merupakan penggalan dari Hadis panjang tentang keutamaan malam bulan Ramadhan dari malam 1-30. Hadistersebut tidak ada dalam kitab-kitab hadis. Namun. Utsman al-Khubbani dalam kitabnya “Durrah al-Nashihiin” menyebutnya sebagai Hadis Riwayat Ali bin Abi Thalib ra, tanpa menyebutkan dari mana sumber hadis tersebut. Maka dari itu, hadis tersebut adalah hadis maudhu, alias palsu

KH. Ali Mustafa Yaqoub

“Hadits seperti itu langsung tidak dipercaya ahli hadits, itu akibat orang-orang sholeh lugu yang kampanye keutamaan Tarawih, tapi dia lupa bahwa istilah “Tarawih” itu bukan dari Nabi”

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim
  1. Kesimpulan
Baca juga  Inilah 4 Makanan Murah Tinggi Protein yang Mudah didapatkan

Kalo kita mau menilai secara fair, ilmiah dan objektif, kita bisa menyimpulkan bahwa Hadits ini adalah hadits yang sangat bermasalah baik dari segi matan (konten) maupun dari segi sanad (mata rantai data), hadits ini, andaipun belum bisa dipastikan 100 persen adalah Hadits Maudhu’ atau palsu, akan tetapi sudah masuk pada taraf ” Al-Ghalib ala dzon” atau punya potensi yang sangat besar sebagai hadits palsu, kecuali jika teman-teman yang menyebarkannya bisa menyebutkan saja sanad dan rujukan lain dari hadits ini.

Oleh karena itu hukum menyebarkan hadits ini adalah tidak boleh kecuali jika disertai keterangan bahwa hadits ini adalah hadits palsu.

Kendati demikian, Lora Ismail masih membuka ruang untuk menambahkan referensi atau dalil, bahkan mengkritisi karena memiliki pendapat dan kesimpulan yang berbeda dari pendapat ini.

__________________

Penulis : Lora Ismail Al-Kholilie

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.