11 April 2024

Tahlilan Di Bangkalan; Akulturasi Agama dan Budaya, Bukan Ajang Pamer Bherkat

3 min read

Telah menjadi keladziman diantara umat Islam di Indonesia pada umumnya, apabila diantara keluarga ada yang meninggal dunia maka pihak keluarga dari Almarhum mengadakan tahlilan. Apa itu tahlilan ? tanpa menengok definisi versi wikipedia, Tahlilan merupakan kegiatan membaca serangkaian ayat Al-Qur’an dan kalimat thayyibah (tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir), di mana pahala dari kalimat thayyibah bacaan tersebut dihadiahkan untuk para leluhur, ulama, kiai, guru dan orang-orang sholih lainnya dan terntu yang paling utama untuk mayit itu sendiri.

Adapun waktu pelaksanaan tahlilan beragam, setidaknya yang penulis ketahui ada 6 versi yakni : 1). dilaksanakan dari hari ke-1 sampai ke-7 (1 minggu full), 2). ke-1, ke-3 dan ke-3  (ganjil), 3). 40 harinya, 4). 100 harinya, 5). 1000 harinya dan 6). Haul – yang dilaksanakan setiap tahun setelah 1000 harinya. Di tengah masyarakat Bangkalan yang dikatakan tahlilan lebih mengacu pada versi 1 dan 2 saja, sedangkan 40 harinya dan seterusnya lebih akrab disebut “40 arenah”, “nyatosseh”, “nyibunah” dan “naonnah”.

Di Bangkalan pada dasarnya tahlilan merupakan tradisi yang megakar kuat dan dilakukan dengan penuh hikmat, tahun-tahun terakhir ini mulai ada yang speak up mengeluhkan biaya tahlilan yang besar dan tidak melaksanakannya pun menjadi bahan gunjingan tetangga.

Tahlilan tumbuh subur meski dibilang biaya pelaksanaanya sangat mahal

Biaya tahlilan di Bangkalan benar-benar mahal, jika dihitung secara nominal penulis yakin masyarakat sepakat no debat-debat club. Lantas kenapa masih mengakar dan subur di tengah masyarakat Bangkalan? Rugi dong udah sedih karena keluarga meninggal plus masih tertimpa tangga mengeluarkan biaya tahlilan.

Sejak dari dulu masyarakat Bangkalan telah tercipta kesadaran kolektif tentang nilai-nilai agama yang ada di dalamnya

Tahlilan bisa mengakar kuat di masyarakat bukan karena paksaan untuk ikut-ikutan semata untuk melaksanakannya namun sejak dari dulu masyarakat Bangkalan telah tercipta kesadaran kolektif tentang nilai-nilai agama yang ada di dalam tahlilan karena di dalamnya dibacakan ayat Al-Qur’an, tahmid, tahlil, takbir dan sedekah yang pahalanya dihadiahkan pada mayit sehingga keluarga yang ditinggal memberikan bakti terakhirnya dengan sebaik-baiknya maka dari itu pelaksanaan tahlilan bukan hanya seremonial tradisi saja apalagi ajang pamer isi bherkat melainkan ada akulturasi agama dan budaya di dalamnya.

Baca juga  Langkah Gresik Menghadapi Sampah: Kampung SIBA KLASIK Buka Toko Refill

Dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan gotong-royong

Sumber biaya pelaksanaan tahlilan juga beragam dari berbagai desa di kecamatan yang tersebar di Bangkalan. Dari 281 desa yang ada, entah itu miskin atau kaya jika ada keluarga yang meninggal hampir rata melaksanakan tahlilan dengan nominal biaya pengeluaran yang berbeda-beda. Adapun sumber biaya yang beragam sebagai berikut; 1). Dari harta mayit, sumbangan keluarga dan berhutang. Dari 3 sumber utama tadi ada juga sumbangan dari masyarakat yang melayat dengan membawa beras dan sumbangan dari kepala desa.

Pada prinsipnya, penyuguhan makanan dan bherkat yang pada saat tahlilan adalah bagian dari bersedekah yang kita tahu pahalanya bisa sampai kepada mayit. Hal ini senada dengan hadits yang tertera dalam Sahih Muslim (Beirut: Dar Ihya al-Turats, 2010), juz III, hal. 1255, hadits no. 1631:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila seorang manusia telah meninggal, maka terputus baginya semua amalnya, kecuali dari tiga hal: kecuali dari sedekah yang berkelanjutan, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Terkait hukum tahlilan biar dibahas oleh pakarnya saja, penulis hanya berusaha memperjelas bahwa adanya tahlilan tidak terlepas dari unsur agama.

Tidak dapat dipungkiri pembiayan tahlilan ada yang sampai berhutang karena kurang mampu. Hal inilah yang menjadi momok jelek tahlilan karena masyarakat menganggap wajib dan harus mewah sampai-sampai tidak ikhlas dalam pelaksanaannya, meskipun tidak banyak tapi anggapan seperti ini ada lantaran pemahaman agamanya masih kurang.

Bukti kesungguhan pelaksanaan tahlilan dari pernyataan teman kampus dalam diskursus tongkorongan kopi kemarin pada (31/01/2024) disebutkan berikut: Saking ingin sempurnanya masyarakat Bangkalan dalam melaksanakan tahlilan meskipun orang tidak berada alias miskin benar sampai berhutang, alasan kenapa berhutang padahal tahlilan tidak wajib ? jawabannya adalah “ken makle sempornaah”  hal semacam ini tentu tidak akan muncul apabila tidak dilandasi oleh agama, apabila bukan dilandasi agama tentu materalistis-lah yang akan tampak. Fyi dalam tongkrongan itu dari berbagai Kecamatan; ada yang dari Kecamatan Tanjung Bumi, Kecamatan Galis, Kecamatan, Kecamatan Kokop dan Kecamatan Bangkalan.

Baca juga  Cinta Segitiga

Semoga kedepannya momok tahlilan yang dianggap wajib dan harus mewah bisa berubah. Supaya tidak ada lagi orang-orang yang berduka, namun masih harus tertimpa tangga yakni sudah punya hutang plus nggak ikhlas lagi. Harapan ini tentu harus dimulai dari edukasi dari ustadz dan kiai yang ada di Bangkalan tapi kalo edukasi atau tausiyah dari kiai itu sudah ada, barangkali kitanya yang tidur pas hadir pengajian atau emang ga pernah ke pengajian. Hehehe.

Penulis: Dhoiff Ahmad

Kirim ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All of nules.co | Newsphere by AF themes.